RSS

PENGARUH BAHASA TERHADAP PENDIDIKAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Bahasa memiliki peran yang amat penting dalam dunia pendidikan. Fungsi bahasa dalam pendidikan diantaranya ialah sebagai pengantar pelajaran. Tanpa bahasa yang baik dan benar, proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan lancar dan tujuan pembelajaran akan sulit dicapai. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh bahasa dalam dunia pendidikan, maka perlu adanya suatu bahasan mengenai pengaruh bahasa dalam komunikasi pendidikan.
Saat ini banyak tenaga pendidik dan peserta didik menggunakan bahasa pergaulan sehari-hari dalam proses pembelajaran sehingga mereka mengalami kesulitan ketika menghadapi suatu keadaan dimana mereka harus menggunakan bahasa Indonesia baku. Penggunaan bahasa Indonesia baku dalam komunikasi pendidikan sangatlah kurang dan memprihatinkan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dan usaha untuk mempelajari bahasa yang baik dan benar.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Apa pengertian bahasa?
2.    Bagaimana asal usul bahasa?
3.    Apa saja fungsi bahasa dalam kehidupan?
4.    Bagaimana pemahaman fungsi bahasa lisan dan tulisan?
5.    Bagaimana pengaruh bahasa pergaulan terhadap pendidikan formal di sekolah?
6.    Bagaimana pengaruh bahasa terhadap komunikasi pendidikan?

C.  TUJUAN
1.    Untuk mengetahui pengertian bahasa.
2.    Untuk mengetahui asal ususl bahasa.
3.    Untuk mengetahui fungsi bahasa dalam kehidupan.
4.    Untuk mengetahui pemahaman mengenai fungsi bahasa lisan dan tulisan.
5.    Untuk mengetahui pengaruh bahasa pergaulan terhadap pendidikan formal di sekolah.
6.    Untuk mengetahui pengaruh bahasa terhadap komunikasi pendidikan.

D.BATASAN MASALAH
Pembahasan maslaah pada makalah ini berbatas pada pengertian bahasa, fungsi bahasa lisan dan tulisan, fungsi bahasa dalam kehidupan, pengaruh bahasa pergaulan terhadap pendidikan formal di sekolah dan pengaruh bahasa dalam komunikasi pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.  PENGERTIAN BAHASA
Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
Lain halnya menurut Owen, menjelaskan definisi bahasa yaitu language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).
Menurut Santoso, bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar.
Definisi lain, Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem. Pengertian tersebut dikemukakan oleh Mackey.
Menurut Wibowo, bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
Hampir senada dengan pendapat Wibowo, Walija (1996:4), mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain.
Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin, beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.
Sementara Pengabean berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf.
Pendapat terakhir dari makalah singkat tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono (1983:01), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.[1]

B.  ASAL USUL BAHASA
Hingga kini belum ada teori apapun yang diterima luas tentang asal usul bahasa. Hanya teori kontemporer yang mengatakan bahwa bahasa adalah eksistensi perilaku sosial manusia. sedangkan yang lain percaya bahwa bahasa verbal berkembang dari suara dasar (basic sound) dan gerak gerik tubuh (gestures). Nenek moyang kita yang disebut Cro Magnon, berkomunikasi melalui simbol-simbol seperti tulang, tanduk, dsb. sampai pada tahap perkembangan selanjutnya, yaitu antara 35.000 sampai 40.000 tahun lalu, mereka menggunakan bahasa lisan. karena Cro Magnon dapat berpikir lewat bahasa, mereka mampu membuat rencana, konsep berburu dengan cara yang lebih baik dan mempertahankan diri lebih efektif. perkembangan bahasa itu menggambarkan atau merefleksikan suatu keadaan dalam sosial masyarakat, seperti: kelas (class), jenis kelamin (gender), profesi (profession), tingkat umur (age group), dan tingkat faktor sosial lainnya.[2]

C.  FUNGSI BAHASA DALAM KEHIDUPAN
Kita sering tidak menyadari betapa pentingnya bahasa. kita baru menyadari bahasa itu penting ketika kita mengalami masalah atau jalan buntu dalam menggunakan bahasa.[3]
Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia mempunyai berbagai fungsi, yaitu sebagai bahasa resmi negara, bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, alat perhubungan pada tingkat nasional bagi kepentingan menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan, dan alat pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, seni, serta teknologi modern.[4] Menurut Larry L. Barker, seperti yang dikutip oleh Mahreni Fajar, bahasa memiliki tiga fungsi:[5]
1.    Penamaan (Naming atau Labeling)
Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan dan orang, dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.
Contoh: Setiap orang tahu sebuah papan kayu atau aluminium yang didesain sedemikian rupa untuk menopang berat badan manusia ketika sedang duduk, dinamakan kursi atau bangku.
2.    Interaksi
Fungsi interaksi menekankan pada berbagai gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
Contoh: Seseorang yang sedang kehilangan anaknya akan bercerita dengan sedihnya untuk berinteraksi dengan kawan agar kondisi hatinya dapat dimengerti oleh sang lawan bicara.
3.    Transmisi
Informasi dari orang lain yang kita terima setiap hari, baik secara langsung maupun tidak langsung, (dari media massa), inilah yang kita sebut fungsi transmisi.
Seperti yang dikutip oleh Deddy Mulyana, Book mengemukakan, agar komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu:[6]
1.    Untuk mengenal dunia di sekitar kita.
2.    Berhubungan dengan orang lain.
3.    Untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita.

D.  MEMAHAMI FUNGSI KOMUNIKASI LISAN DAN TULISAN
Dalam hubungannya dengan ilmu bahasa maupun komunikasi dikenal pebedaan komunikasi verbal melalui media lisan dan tulisan (oral communication dan written communication) . Baik melalui tulisan maupun lisan, manusia tetap menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Komunikasi tetap menggunakan sistem simbol yang telah disepakati dalam suatu bahasa. Sistem simbol dalam komunikasi verbal tersebut menurut Verdeber (1998) terdiri dari: (1) ‘kata-kata’ yang diketahui (vocabularly) yang dipelajari dengan cara-cara tertentu: (2) tata bahasa (grammar) dan sintaksis. Karenanya dalam berbagai bahasa yang sudah memiliki sistem kebahasaan kunci sukses komunikasi verbal melalui bahasa lisan maupun tulisan dapat dilakukan dengan regulasi tertentu.[7]
a)   Komunikasi Lisan[8]
Dalam speech communication (komunikasi lisan) yang terutama dijumpai dalam komunikasi antar pribadi terjadi oeralihan pesan-pesan verbal dalam bentuk ‘kata-kata’ (kita mengabaikan bahwa dalam proses iru ada pula pesan-pesan melalui saluran non verbal). Yang pasti bahwa, unsur-unsur penting dari kounikasi tercakup di dalamnya yaitu; sumber, saluran, pesan, code(tanda/simbol), penerima dan kerangka rujukan. Setiap unsur memberikan dukungan pada komunikasi verbal.
Menurut De Vito (1978); Victoria dan Robert (1983); ada enam jenis komunikasi lisan (verbal).
1)   Emotive speech, merupakan gaya bicara yang lebih mementingkan aspek psikologis. Ia lebih mengutamakan pilihan ‘kata’ yang didukung oleh pesan non verbal.
2)   Phatic speech adalah gaya komunikasi verbal yang berusaha menciptakan hubungan sosial sebagaimana dikatakan oleh Bronislaw Malinowski dengan phatic communication, phatic speech ini tidak dapat diterjemahkan secara tepat karena ia harus dilihat dalam kaitannya dengan konteks di saat ‘kata’ diucapkan dalam suatu tatanan sosial suatu masyarakat.
3)   Cognitive speech merupakan jenis komunikasi verbal yang mengacu pada kerangka berpikir atau rujukan yang secara tegas mengartikan suatu kata secara denotatif dan bersifat informatif.
4)   Rethorical speech mengacu pada komunikasi verbal yang menekankan sifat konatif. Gaya bicara ini mengarahkan pilihan ucapan yang mendorong terbentuknya perilaku. Cara ini biasannya digunakan oleh para politisi, salesman yang bersifat persuasi.
5)   Metalingual speech adalah komunikasi lisan secara verbal, tema pembicaraannya tidak mengacu pada obyek dan peristiwa dalam dunia nyata melainkan tentang pembicaraan itu sendiri. Tipe pembicaraan ini sangat berbeda dari yang lain, ia bersifat sangat abstrak dan berorientasi pada code/ tanda-tanda komunikasi.
6)   Poetic speech adalah komunikasi lisan yang secara verbal berkutat pada struktur penggunaan kata yang tepat melalui perindahan pilihan kata, ketepatan ungkapan biasannya menggambarkan rasa seni dan pandangan serta gaya-gaya lain yang khas. 
b)   Memahami Fungsi Komunikasi Verbal Tertulis[9]
Tubbs mengutip karya Menning dan Wilkonson dalam buku mereka, yang kemudian dikutip lagi oleh Alo Liliweri: Communication by Latters and Reparting, mengemukakan bahwa tema-tema komunikasi verbal tertulis terletak pada faktor keterbacaan. Keterbacaan, menurut keduannya, berkaitan dengan semantik suatu bahasa yang mempertimbangkan apakah setiap pembaca dapat mengerti suatu tulisan dalam suatu wacana. Dua pengarang itu menekankan perihal diksi (pemilihan kata), mendefinisikan term-term yang bersifat teknis dan metode bersama yang dapat diterima seperti tanda baca dan bentuk kalimat.
Jollife (dikutip oleh Alo Liliweri) menggambarkan sistem yang sama dengan mengajukan beberapa pertanyaan panduan sebagai berikut: (1) apa yang anda maksudkan? (mungkinkah ‘kata-kata’ yang anda maksudkan itu akan sama dengan dimaksudkan mereka atau yang mereka ingin katakan?); (2) Bagaimana anda bisa mengetahui? (tunjukkan pada saya beberapa contoh dan bukti dan kwalitas kesimpulan anda). (3) Apa yang anda inginkan saya perbuat? (saya harus memperhatikan motif anda terlebih dahulu tetapi biarkanlah saya mengetahuinnya sendiri. Apakah hal itu ada dan dapat saya miliki?) beberapa prinsip semantik itu belum tentu diterima seluruhnya karena kitapun mempertimbangkan siapa yang akan membaca wacana tertulis itu? Kita mengaitkannya dengan faktor: (1) konteks; (2) kata sebagai simbol; dan (3) tingkat abstraksi.[10]
Pertama, konteks; aspek pertama dari komunikasi verbal yang didiskusikan ini termasuk di dalamnya adalah konteks. Komunikasi bergerak dalam suatu keadaan yang berbeda, fisik. sosiologis, psikologis, bahkan konteks verbal. Inilah yang disebut komunikasi berada dalam konteks yang dialami pengirim dan penerima. Komunikasi dapat terjadi dalam suatu konteks fisik yang keluar dalam bentuk jarak fisik maupun jarak sosial. Jarak itu memungkinkan seseorang memilih pesan verbal maupun non-verbal.
Konteks psikologis, dapat ditunjukkan melalui surat yang terkirim pada hari yang baik, minggu yang cocok, jam yang tepat agar sesuatu wacana bisa dibaca.
Konteks verbal merupakan hambatan yang dialami setiap orang. Misalnya masalah semantik yang dalam komunikasi di pelajari melalui studi perbedaan konteks verbal yang dimiliki setiap orang. Aspek studi ini memberikan pengajaran bagi para penulis surat-surat bisnis maupun laporan dinas.
Kedua, ‘kata’ sebagai simbol; ada satu prinsip dasar yang didiskusikan dalam setiap tema semantik adalah adanya ‘kata’ yang kadang-kadang tidak mengandung makna jika tidak dihubungkan dengan ‘kata’ yang lain. Jika ditelusuri maka ‘kata’ itu mempunyai simbol dan konsep yang sudah diterima dan digunakan dalam masyarakat. Kata-kata seperti itu mendapat tekanan konotasi yang bersifat personal dari pada denotasi bersama.
Banyak penelitian telah menunjukkan peta mental setiap orang berbeda terhadap ‘kata’, meskipun mereka mempunyai penguasaan semantik yang sama. Jadi, setiap orang mempunyai peta ‘kata’ yang mereka gunakan. Bahasa adalah suatu kenyataan seperti suatu peta sebagai penunjuk wilayah dan bukan wilayah itu sendiri. Pertanyaan kita mana yang lebih penting, peta atau wilayahnya; tanpa peta, anada tidak dapat memasuki suatu wilayah, demikian pula dalam bahasa. Kedua-duanya penting.
Ketiga, tingkat abstraksi; setiap konteks (aspek kedua tersebut diatas) mengakibatkan tingkatan abstraksi yang bebeda. Ada jenjang dari suatu konteks yang mengakibatkan perbedaan daya abstraksi tertentu terhadap suatu wacana. Hal ini sangat menentukan pola-pola wacana baku tertulis yang mengatur bagaimana seharusnya struktur itu didekati. Ambil contoh yang sederhana bersurat kepada orang tua tentu sangat berbeda dengan kepada teman atau adik.

E.  PENGARUH BAHASA PERGAULAN TERHADAP PENDIDIKAN FORMAL DI SEKOLAH
Ada beberapa indikator yang menentukan kuatnya bahasa pergaulan yang dikuasai oleh siswa.[11]
1.    Sejak lahir, anak sudah dibiasakan menggunakan bahasa pergaulan. Proses pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan anak terutama dalam kemampuan berbahasa. Bagi mereka, kesan atau pengalaman awal inilah yang sangat mempengaruhi proses perkembangannya ke depan. Sesuatu yang sudah dibiasakan akan sangat sulit untuk ditinggalkan atau diperbaharui. Kalau pun mungkin, proses itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
2.    Lingkungan. Lingkungan tidak hanya menjadi obyek atau tempat, namun turut mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak. Anak yang sudah dibiasakan dengan bahasa ibu atau bahasa pergaulan, dan berada di lingkungan yang masyarakatnya sering menggunakan bahasa peragulan, maka akan memunculkan daya ingat dan daya serap yang sangat kuat terhadap bahasa pergaulan tersebut.
Kedua indikator inilah yang menimbulkan mengapa seorang anak akan sangat sulit melupakan bahasa ibu atau pergaulan. Pengaruh bahasa pergaulan akan terlihat jelas dalam pendidikan di sekolah sebagai proses lanjut dari pendidikan di rumah. Masalah kedekatan atau kekentalan bahasa pergaulan siswa akan membawa kesulitan tersendiri pada kemampuan berbahasa siswa terutama dalam kemampuan berbahasa secara baku yakni sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Kesulitan itu meliputi :[12]
1.    Kemampuan berbicara dengan menggunakan bahasa secara tepat. Kekuatan dan kemampuan bahasa pergaulan menghipnotis siswa begitu kuat hingga siswa terus saja membawanya dalam bahasa-bahasa resmi yang baku. Pengucapan beberapa kata akan terlihat janggal karena faktor pembiasaan dari rumah dan lingkungan yang sudah mengeras. Contoh, menyebutkan kata “pegang”. Siswa cenderung menyebutkan kata “pegang” dengan sebutan “pegang” dengan e seperti menyebutkan “keju”. Padahal sebutan yang tepat adalah “pegang” dengan e seperti menyebutkan “belajar”.
2.    Selain itu, kelekatan pada bahasa pergaulan akan sangat menyulitkan anak dalam penulisan yang tepat. Anak cenderung menuliskan secara lurus apa yang dipikirkan termasuk kata-kata yang diadopsi dalam bahasa pergaulan tanpa suatu proses pengolahan yang tepat.
3.    Penempatan tanda baca. Siswa yang sudah sangat kental bahasa pergaulannya, akan sulit juga untuk menempatkan tanda baca yang tepat terutama tanda baca koma. Proses pembiasaan bahasa pergaulan secara lisan sejak dini akan sangat sulit bagi para siswa ketika menterjemahkan bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan secara tepat.
Beberapa solusi untuk membiasakan anak berbahasa secara tepat:[13]
1.    Menyadarkan siswa akan perbedaan dan fungsi dari bahasa pergaulan dan bahasa yang baku. Upaya pembedaan ini dimaksud untuk mengajak anak menyadari porsi dan tempat yang tepat bagi penggunaan kedua bahasa tersebut. Kapan mereka harus menggunakan bahasa pergaulan dan kapan bahasa yang baku mengambil peran.
2.    Sebagaimana bahasa pergaulan, proses berbahasa secara tepat yang sesuai dengan EYD pun membutuhkan suatu upaya pembiasaan. Artinya, anak dilatih untuk berbahasa secara tepat baik secara lisan maupun tulisan setiap saat setidaknya selama berada di sekolah. Pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan berbahasa pada siswa.

F.   PENGARUH BAHASA TERHADAP  KOMUNIKASI PENDIDIKAN
Salah satu fungsi bahasa Indoneisa adalah sebagai bahasa pengantar. Jadi, dalam kegiatan/proses belajar-mengajar bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Berkaitan dengan hal ini, saat ini muncul fenomena menarik dengan adanya Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI). Kekhawatiran sebagian orang terhadap keberadaan bahasa Indonesia dalam SNBI muncul karena bahasa pengantar yang digunakan dalam beberapa mata pelajaran adalah bahasa asing. Padahal kalau kembali ke fungsi bahasa Indonesia, salah satunya adalah bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan. Kekhawatiran seperti di atas sah-sah saja. Apalagi kalau kita amati penggunaan bahasa Indonesia oleh para penuturnya. Dalam berbahasa Indonesia sebagaian penutur kurang mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Dalam suasana yang bersifat resmi, mereka menggunakan kata-kata/bahasa yang biasa digunakan dalam suasana tidak resmi/kehidupan sehari-hari. Padahal, seperti kita ketahui bahwa berbahasa Indonesia secara baik dan benar adalah berbahasa Indonesia sesuai dengan suasana/situasinya dan kaidah-kaidan kebahasaan. Hal tersebut mungkin karena sikap negatif terhadap bahasa yang digunakan. Mereka berbahasa Indonesia tanpa mempertimbangkan tepat tidaknya ragam bahasa yang digunakan. Bagi mereka, yang terpenting adalah sudah menyampaikan informasi kepada orang lain. Perkara orang lain tahu atau tidak terhadap apa yang disampaikan mereka tidak ambil pusing. Padahal salah satu syarat utama supaya komunikasi berjalan dengan lancar adalah keterpahaman orang lain/mitra tutur terhadap informasi yang disampaikan. Selain itu, tidak pada tempatnya dalam suasana yang bersifat resmi seseorang menggunakan kata/kalimat/bahasa yang biasa digunakan dalam suasana tak resmi.[14]
Untuk itu, sudah selayaknyalah kalau warga negara Indonesia mempunyai sikap positif terhadap bahasa yang mereka gunakan. Dalam berkomunikasi, menggunakan bahasa Indonesia baik penutur maupun mitra tutur haruslah mempertimbangkan tepat tidaknya ragam bahasa yang digunakan. Sebagai warga negara Indonesia, kita harus mempunyai sikap seperti itu karena siapa lagi yang harus menghargai bahasa Indonesia selain warga negaranya. Kalau kita ingin bahasa Indonesia nantinya bisa menjadi salah satu bahasa internasional kita juga harus menghargai, ikut merasa bangga, merasa memiliki, sehingga kita punya jatidiri. Kita, sebagai bangsa Indonesia harus bersyukur, bangga, dan beruntung karena memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.
Munculnya Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI) tidak perlu memunculkan kekhawatiran akan hilangnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di dunia pendidikan. Hal ini karena ternyata penggunaan bahasa asing sebagai pengantar ternyata tidak diterapkan pada semua mata pelajaran. Penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar di SNBI hanya diterapkan pada beberapa mata pelajaran.
Intensitas penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar-mengajar menjadi berkurang. Hal itu bisa disiasati dengan lebih mengefektifkan proses pembelajaran bahasa Indonesia dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran lebih banyak diarahkan kepada hal-hal yang bersifat terapan praktis bukan hal-hal yang bersifat teoretis. Siswa lebih banyak dikondisikan pada pemakaian bahasa yang aplikatif tetapi sesuai dengan aturan berbahasa Indonesia secara baik dan benar.
Pengkondisian pada hal-hal yang bersifat terapan praktis bukan berarti menghilangkan hal-hal yang bersifat teoretis. Hal-hal yang bersifat teoretis tetap disampaikan tetapi porsinya tidak begitu besar. Dengan pengkondisian seperti itu, siswa menjadi terbiasa mempergunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Dalam suasana resmi mereka menggunakan bahasa resmi dan dalam suasana tak resmi mereka menggunakan bahasa tak resmi. Selain itu, mereka menjadi terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan.[15]


BAB III
PENUTUP

A.  KESIMPULAN
1.    PENGERTIAN BAHASA
Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.

2.    ASAL USUL BAHASA
Nenek moyang kita yang disebut Cro Magnon, berkomunikasi melalui simbol-simbol seperti tulang, tanduk, dsb. sampai pada tahap perkembangan selanjutnya, yaitu antara 35.000 sampai 40.000 tahun lalu, mereka menggunakan bahasa lisan. karena Cro Magnon dapat berpikir lewat bahasa, mereka mampu membuat rencana, konsep berburu dengan cara yang lebih baik dan mempertahankan diri lebih efektif. perkembangan bahasa itu menggambarkan atau merefleksikan suatu keadaan dalam sosial masyarakat, seperti: kelas (class), jenis kelamin (gender), profesi (profession), tingkat umur (age group), dan tingkat faktor sosial lainnya.
3.    FUNGSI BAHASA DALAM KEHIDUPAN
Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia mempunyai berbagai fungsi, yaitu sebagai bahasa resmi negara, bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, alat perhubungan pada tingkat nasional bagi kepentingan menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan, dan alat pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, seni, serta teknologi modern. Menurut Larry L. Barker, seperti yang dikutip oleh Mahreni Fajar, bahasa memiliki tiga fungsi:
1)   Penamaan (Naming atau Labeling)
2)   Interaksi
3)   Transmisi
Seperti yang dikutip oleh Deddy Mulyana, Book mengemukakan, agar komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu:
1.    Untuk mengenal dunia di sekitar kita.
2.    Berhubungan dengan orang lain.
3.    Untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita.
4.    MEMAHAMI FUNGSI BAHASA LISAN DAN TULISAN
a)   Komunikasi Lisan
Menurut De Vito, Victoria dan Robert seperti yang dikutip oleh ada enam jenis komunikasi lisan (verbal).
1)   Emotive speech, merupakan gaya bicara yang lebih mementingkan aspek psikologis. Ia lebih mengutamakan pilihan ‘kata’ yang didukung oleh pesan non verbal.
2)   Phatic speech adalah gaya komunikasi verbal yang berusaha menciptakan hubungan sosial sebagaimana dikatakan oleh Bronislaw Malinowski dengan phatic communication, phatic speech ini tidak dapat diterjemahkan secara tepat karena ia harus dilihat dalam kaitannya dengan konteks di saat ‘kata’ diucapkan dalam suatu tatanan sosial suatu masyarakat.
3)   Cognitive speech merupakan jenis komunikasi verbal yang mengacu pada kerangka berpikir atau rujukan yang secara tegas mengartikan suatu kata secara denotatif dan bersifat informatif.
4)   Rethorical speech mengacu pada komunikasi verbal yang menekankan sifat konatif. Gaya bicara ini mengarahkan pilihan ucapan yang mendorong terbentuknya perilaku. Cara ini biasannya digunakan oleh para politisi, salesman yang bersifat persuasi.
5)   Metalingual speech adalah komunikasi lisan secara verbal, tema pembicaraannya tidak mengacu pada obyek dan peristiwa dalam dunia nyata melainkan tentang pembicaraan itu sendiri. Tipe pembicaraan ini sangat berbeda dari yang lain, ia bersifat sangat abstrak dan berorientasi pada code/ tanda-tanda komunikasi.
6)   Poetic speech adalah komunikasi lisan yang secara verbal berkutat pada struktur penggunaan kata yang tepat melalui perindahan pilihan kata, ketepatan ungkapan biasannya menggambarkan rasa seni dan pandangan serta gaya-gaya lain yang khas. 

b)   Memahami Fungsi Komunikasi Verbal Tertulis
Tubbs (1978) mengutip karya Menning dan Wilkonson dalam buku mereka: Communication by Latters and Reparting, mengemukakan bahwa tema-tema komunikasi verbal tertulis terletak pada faktor keterbacaan. Keterbacaan, menurut keduannya, berkaitan dengan semantik suatu bahasa yang mempertimbangkan apakah setiap pembaca dapat mengerti suatu tulisan dalam suatu wacana. Dua pengarang itu menekankan perihal diksi (pemilihan kata), mendefinisikan term-term yang bersifat teknis dan metode bersama yang dapat diterima seperti tanda baca dan bentuk kalimat.
5.    PENGARUH BAHASA TERHADAP PENDIDIKAN FORMAL DI SEKOLAH
Ada beberapa indikator yang menentukan kuatnya bahasa pergaulan yang dikuasai oleh siswa.
1.    Sejak lahir
2.    Lingkungan
6.    PENGARUH BAHASA DALAM KOMUNIKASI PENDIDIKAN
Dalam berbahasa Indonesia sebagaian penutur kurang mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Dalam suasana yang bersifat resmi, mereka menggunakan kata-kata/bahasa yang biasa digunakan dalam suasana tidak resmi/kehidupan sehari-hari. Padahal, seperti kita ketahui bahwa berbahasa Indonesia secara baik dan benar adalah berbahasa Indonesia sesuai dengan suasana/situasinya dan kaidah-kaidan kebahasaan. Hal tersebut mungkin karena sikap negatif terhadap bahasa yang digunakan. Mereka berbahasa Indonesia tanpa mempertimbangkan tepat tidaknya ragam bahasa yang digunakan. Bagi mereka, yang terpenting adalah sudah menyampaikan informasi kepada orang lain.
B.  KRITIK/SARAN
Bahasa memiliki banyak pengaruh dalam pembelajaran di sekolah karena bahasa berfungsi sebagai suatu pengantar dalam pendidikan. Saat ini yang disayangkan adalah penggunaan bahasa yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan ejaan yang benar. Seharusnya setiap sekolah memiliki seorang ahli bahasa yang profesional yang bertugas memberikan pemahaman dan penjelasan mengenai penggunaan bahasa yang baik dan benar. Bahasa menjadi sebuah identitas dari setiap individu ataupun suatu lembaga karena bahasa sangat berpengaruh dalam pendidikan dan pergaulan.
C.  HARAPAN
Bahasa Indonesia merupakan bahasa Nasional, yang artinya sebagai bahasa persatuan yang digunakan oleh semua warga negara untuk dapat berkomunikasi secara nasional. Bahasa Indonesia berpengaruh terhadap pendidikan di sekolah, untuk itu, perlu adanya perubahan yang signifikan dalam upaya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar proses pembelajaran/pendidikan dapat tercapai.


DAFTAR RUJUKAN

Fajar, Marheni. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2009.
Liliweri, Alo. Kmunikasi Verbal dan Nonverbal. Citra Aditya Bakti. Bandung. 1994.
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung. Remaja Rosdakarya. 2010.




[2] Marheni Fajar, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hlm: 111
[3] Ibid. hlm: 111
[5] Marheni Fajar, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hlm: 112
[6] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hlm: 267
[7] Alo Liliweri, Komunikasi Verbal dan Nonverbal, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1994), hlm: 42-43
[8] Ibid, hlm: 43
[9] Ibid, hlm: 45
[10] Alo Liliweri, Komunikasi Verbal dan Nonverbal, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1994), hlm: 42-43

0 komentar:

Post a Comment

COMMENT PLEASE.............

PENGARUH BAHASA TERHADAP PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Bahasa memiliki peran yang amat penting dalam dunia pendidikan. Fungsi bahasa dalam pendidikan diantaranya ialah sebagai pengantar pelajaran. Tanpa bahasa yang baik dan benar, proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan lancar dan tujuan pembelajaran akan sulit dicapai. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh bahasa dalam dunia pendidikan, maka perlu adanya suatu bahasan mengenai pengaruh bahasa dalam komunikasi pendidikan.
Saat ini banyak tenaga pendidik dan peserta didik menggunakan bahasa pergaulan sehari-hari dalam proses pembelajaran sehingga mereka mengalami kesulitan ketika menghadapi suatu keadaan dimana mereka harus menggunakan bahasa Indonesia baku. Penggunaan bahasa Indonesia baku dalam komunikasi pendidikan sangatlah kurang dan memprihatinkan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dan usaha untuk mempelajari bahasa yang baik dan benar.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Apa pengertian bahasa?
2.    Bagaimana asal usul bahasa?
3.    Apa saja fungsi bahasa dalam kehidupan?
4.    Bagaimana pemahaman fungsi bahasa lisan dan tulisan?
5.    Bagaimana pengaruh bahasa pergaulan terhadap pendidikan formal di sekolah?
6.    Bagaimana pengaruh bahasa terhadap komunikasi pendidikan?

C.  TUJUAN
1.    Untuk mengetahui pengertian bahasa.
2.    Untuk mengetahui asal ususl bahasa.
3.    Untuk mengetahui fungsi bahasa dalam kehidupan.
4.    Untuk mengetahui pemahaman mengenai fungsi bahasa lisan dan tulisan.
5.    Untuk mengetahui pengaruh bahasa pergaulan terhadap pendidikan formal di sekolah.
6.    Untuk mengetahui pengaruh bahasa terhadap komunikasi pendidikan.

D.BATASAN MASALAH
Pembahasan maslaah pada makalah ini berbatas pada pengertian bahasa, fungsi bahasa lisan dan tulisan, fungsi bahasa dalam kehidupan, pengaruh bahasa pergaulan terhadap pendidikan formal di sekolah dan pengaruh bahasa dalam komunikasi pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.  PENGERTIAN BAHASA
Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
Lain halnya menurut Owen, menjelaskan definisi bahasa yaitu language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).
Menurut Santoso, bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar.
Definisi lain, Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem. Pengertian tersebut dikemukakan oleh Mackey.
Menurut Wibowo, bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
Hampir senada dengan pendapat Wibowo, Walija (1996:4), mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain.
Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin, beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.
Sementara Pengabean berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf.
Pendapat terakhir dari makalah singkat tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono (1983:01), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.[1]

B.  ASAL USUL BAHASA
Hingga kini belum ada teori apapun yang diterima luas tentang asal usul bahasa. Hanya teori kontemporer yang mengatakan bahwa bahasa adalah eksistensi perilaku sosial manusia. sedangkan yang lain percaya bahwa bahasa verbal berkembang dari suara dasar (basic sound) dan gerak gerik tubuh (gestures). Nenek moyang kita yang disebut Cro Magnon, berkomunikasi melalui simbol-simbol seperti tulang, tanduk, dsb. sampai pada tahap perkembangan selanjutnya, yaitu antara 35.000 sampai 40.000 tahun lalu, mereka menggunakan bahasa lisan. karena Cro Magnon dapat berpikir lewat bahasa, mereka mampu membuat rencana, konsep berburu dengan cara yang lebih baik dan mempertahankan diri lebih efektif. perkembangan bahasa itu menggambarkan atau merefleksikan suatu keadaan dalam sosial masyarakat, seperti: kelas (class), jenis kelamin (gender), profesi (profession), tingkat umur (age group), dan tingkat faktor sosial lainnya.[2]

C.  FUNGSI BAHASA DALAM KEHIDUPAN
Kita sering tidak menyadari betapa pentingnya bahasa. kita baru menyadari bahasa itu penting ketika kita mengalami masalah atau jalan buntu dalam menggunakan bahasa.[3]
Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia mempunyai berbagai fungsi, yaitu sebagai bahasa resmi negara, bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, alat perhubungan pada tingkat nasional bagi kepentingan menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan, dan alat pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, seni, serta teknologi modern.[4] Menurut Larry L. Barker, seperti yang dikutip oleh Mahreni Fajar, bahasa memiliki tiga fungsi:[5]
1.    Penamaan (Naming atau Labeling)
Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan dan orang, dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.
Contoh: Setiap orang tahu sebuah papan kayu atau aluminium yang didesain sedemikian rupa untuk menopang berat badan manusia ketika sedang duduk, dinamakan kursi atau bangku.
2.    Interaksi
Fungsi interaksi menekankan pada berbagai gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
Contoh: Seseorang yang sedang kehilangan anaknya akan bercerita dengan sedihnya untuk berinteraksi dengan kawan agar kondisi hatinya dapat dimengerti oleh sang lawan bicara.
3.    Transmisi
Informasi dari orang lain yang kita terima setiap hari, baik secara langsung maupun tidak langsung, (dari media massa), inilah yang kita sebut fungsi transmisi.
Seperti yang dikutip oleh Deddy Mulyana, Book mengemukakan, agar komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu:[6]
1.    Untuk mengenal dunia di sekitar kita.
2.    Berhubungan dengan orang lain.
3.    Untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita.

D.  MEMAHAMI FUNGSI KOMUNIKASI LISAN DAN TULISAN
Dalam hubungannya dengan ilmu bahasa maupun komunikasi dikenal pebedaan komunikasi verbal melalui media lisan dan tulisan (oral communication dan written communication) . Baik melalui tulisan maupun lisan, manusia tetap menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Komunikasi tetap menggunakan sistem simbol yang telah disepakati dalam suatu bahasa. Sistem simbol dalam komunikasi verbal tersebut menurut Verdeber (1998) terdiri dari: (1) ‘kata-kata’ yang diketahui (vocabularly) yang dipelajari dengan cara-cara tertentu: (2) tata bahasa (grammar) dan sintaksis. Karenanya dalam berbagai bahasa yang sudah memiliki sistem kebahasaan kunci sukses komunikasi verbal melalui bahasa lisan maupun tulisan dapat dilakukan dengan regulasi tertentu.[7]
a)   Komunikasi Lisan[8]
Dalam speech communication (komunikasi lisan) yang terutama dijumpai dalam komunikasi antar pribadi terjadi oeralihan pesan-pesan verbal dalam bentuk ‘kata-kata’ (kita mengabaikan bahwa dalam proses iru ada pula pesan-pesan melalui saluran non verbal). Yang pasti bahwa, unsur-unsur penting dari kounikasi tercakup di dalamnya yaitu; sumber, saluran, pesan, code(tanda/simbol), penerima dan kerangka rujukan. Setiap unsur memberikan dukungan pada komunikasi verbal.
Menurut De Vito (1978); Victoria dan Robert (1983); ada enam jenis komunikasi lisan (verbal).
1)   Emotive speech, merupakan gaya bicara yang lebih mementingkan aspek psikologis. Ia lebih mengutamakan pilihan ‘kata’ yang didukung oleh pesan non verbal.
2)   Phatic speech adalah gaya komunikasi verbal yang berusaha menciptakan hubungan sosial sebagaimana dikatakan oleh Bronislaw Malinowski dengan phatic communication, phatic speech ini tidak dapat diterjemahkan secara tepat karena ia harus dilihat dalam kaitannya dengan konteks di saat ‘kata’ diucapkan dalam suatu tatanan sosial suatu masyarakat.
3)   Cognitive speech merupakan jenis komunikasi verbal yang mengacu pada kerangka berpikir atau rujukan yang secara tegas mengartikan suatu kata secara denotatif dan bersifat informatif.
4)   Rethorical speech mengacu pada komunikasi verbal yang menekankan sifat konatif. Gaya bicara ini mengarahkan pilihan ucapan yang mendorong terbentuknya perilaku. Cara ini biasannya digunakan oleh para politisi, salesman yang bersifat persuasi.
5)   Metalingual speech adalah komunikasi lisan secara verbal, tema pembicaraannya tidak mengacu pada obyek dan peristiwa dalam dunia nyata melainkan tentang pembicaraan itu sendiri. Tipe pembicaraan ini sangat berbeda dari yang lain, ia bersifat sangat abstrak dan berorientasi pada code/ tanda-tanda komunikasi.
6)   Poetic speech adalah komunikasi lisan yang secara verbal berkutat pada struktur penggunaan kata yang tepat melalui perindahan pilihan kata, ketepatan ungkapan biasannya menggambarkan rasa seni dan pandangan serta gaya-gaya lain yang khas. 
b)   Memahami Fungsi Komunikasi Verbal Tertulis[9]
Tubbs mengutip karya Menning dan Wilkonson dalam buku mereka, yang kemudian dikutip lagi oleh Alo Liliweri: Communication by Latters and Reparting, mengemukakan bahwa tema-tema komunikasi verbal tertulis terletak pada faktor keterbacaan. Keterbacaan, menurut keduannya, berkaitan dengan semantik suatu bahasa yang mempertimbangkan apakah setiap pembaca dapat mengerti suatu tulisan dalam suatu wacana. Dua pengarang itu menekankan perihal diksi (pemilihan kata), mendefinisikan term-term yang bersifat teknis dan metode bersama yang dapat diterima seperti tanda baca dan bentuk kalimat.
Jollife (dikutip oleh Alo Liliweri) menggambarkan sistem yang sama dengan mengajukan beberapa pertanyaan panduan sebagai berikut: (1) apa yang anda maksudkan? (mungkinkah ‘kata-kata’ yang anda maksudkan itu akan sama dengan dimaksudkan mereka atau yang mereka ingin katakan?); (2) Bagaimana anda bisa mengetahui? (tunjukkan pada saya beberapa contoh dan bukti dan kwalitas kesimpulan anda). (3) Apa yang anda inginkan saya perbuat? (saya harus memperhatikan motif anda terlebih dahulu tetapi biarkanlah saya mengetahuinnya sendiri. Apakah hal itu ada dan dapat saya miliki?) beberapa prinsip semantik itu belum tentu diterima seluruhnya karena kitapun mempertimbangkan siapa yang akan membaca wacana tertulis itu? Kita mengaitkannya dengan faktor: (1) konteks; (2) kata sebagai simbol; dan (3) tingkat abstraksi.[10]
Pertama, konteks; aspek pertama dari komunikasi verbal yang didiskusikan ini termasuk di dalamnya adalah konteks. Komunikasi bergerak dalam suatu keadaan yang berbeda, fisik. sosiologis, psikologis, bahkan konteks verbal. Inilah yang disebut komunikasi berada dalam konteks yang dialami pengirim dan penerima. Komunikasi dapat terjadi dalam suatu konteks fisik yang keluar dalam bentuk jarak fisik maupun jarak sosial. Jarak itu memungkinkan seseorang memilih pesan verbal maupun non-verbal.
Konteks psikologis, dapat ditunjukkan melalui surat yang terkirim pada hari yang baik, minggu yang cocok, jam yang tepat agar sesuatu wacana bisa dibaca.
Konteks verbal merupakan hambatan yang dialami setiap orang. Misalnya masalah semantik yang dalam komunikasi di pelajari melalui studi perbedaan konteks verbal yang dimiliki setiap orang. Aspek studi ini memberikan pengajaran bagi para penulis surat-surat bisnis maupun laporan dinas.
Kedua, ‘kata’ sebagai simbol; ada satu prinsip dasar yang didiskusikan dalam setiap tema semantik adalah adanya ‘kata’ yang kadang-kadang tidak mengandung makna jika tidak dihubungkan dengan ‘kata’ yang lain. Jika ditelusuri maka ‘kata’ itu mempunyai simbol dan konsep yang sudah diterima dan digunakan dalam masyarakat. Kata-kata seperti itu mendapat tekanan konotasi yang bersifat personal dari pada denotasi bersama.
Banyak penelitian telah menunjukkan peta mental setiap orang berbeda terhadap ‘kata’, meskipun mereka mempunyai penguasaan semantik yang sama. Jadi, setiap orang mempunyai peta ‘kata’ yang mereka gunakan. Bahasa adalah suatu kenyataan seperti suatu peta sebagai penunjuk wilayah dan bukan wilayah itu sendiri. Pertanyaan kita mana yang lebih penting, peta atau wilayahnya; tanpa peta, anada tidak dapat memasuki suatu wilayah, demikian pula dalam bahasa. Kedua-duanya penting.
Ketiga, tingkat abstraksi; setiap konteks (aspek kedua tersebut diatas) mengakibatkan tingkatan abstraksi yang bebeda. Ada jenjang dari suatu konteks yang mengakibatkan perbedaan daya abstraksi tertentu terhadap suatu wacana. Hal ini sangat menentukan pola-pola wacana baku tertulis yang mengatur bagaimana seharusnya struktur itu didekati. Ambil contoh yang sederhana bersurat kepada orang tua tentu sangat berbeda dengan kepada teman atau adik.

E.  PENGARUH BAHASA PERGAULAN TERHADAP PENDIDIKAN FORMAL DI SEKOLAH
Ada beberapa indikator yang menentukan kuatnya bahasa pergaulan yang dikuasai oleh siswa.[11]
1.    Sejak lahir, anak sudah dibiasakan menggunakan bahasa pergaulan. Proses pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan anak terutama dalam kemampuan berbahasa. Bagi mereka, kesan atau pengalaman awal inilah yang sangat mempengaruhi proses perkembangannya ke depan. Sesuatu yang sudah dibiasakan akan sangat sulit untuk ditinggalkan atau diperbaharui. Kalau pun mungkin, proses itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
2.    Lingkungan. Lingkungan tidak hanya menjadi obyek atau tempat, namun turut mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak. Anak yang sudah dibiasakan dengan bahasa ibu atau bahasa pergaulan, dan berada di lingkungan yang masyarakatnya sering menggunakan bahasa peragulan, maka akan memunculkan daya ingat dan daya serap yang sangat kuat terhadap bahasa pergaulan tersebut.
Kedua indikator inilah yang menimbulkan mengapa seorang anak akan sangat sulit melupakan bahasa ibu atau pergaulan. Pengaruh bahasa pergaulan akan terlihat jelas dalam pendidikan di sekolah sebagai proses lanjut dari pendidikan di rumah. Masalah kedekatan atau kekentalan bahasa pergaulan siswa akan membawa kesulitan tersendiri pada kemampuan berbahasa siswa terutama dalam kemampuan berbahasa secara baku yakni sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Kesulitan itu meliputi :[12]
1.    Kemampuan berbicara dengan menggunakan bahasa secara tepat. Kekuatan dan kemampuan bahasa pergaulan menghipnotis siswa begitu kuat hingga siswa terus saja membawanya dalam bahasa-bahasa resmi yang baku. Pengucapan beberapa kata akan terlihat janggal karena faktor pembiasaan dari rumah dan lingkungan yang sudah mengeras. Contoh, menyebutkan kata “pegang”. Siswa cenderung menyebutkan kata “pegang” dengan sebutan “pegang” dengan e seperti menyebutkan “keju”. Padahal sebutan yang tepat adalah “pegang” dengan e seperti menyebutkan “belajar”.
2.    Selain itu, kelekatan pada bahasa pergaulan akan sangat menyulitkan anak dalam penulisan yang tepat. Anak cenderung menuliskan secara lurus apa yang dipikirkan termasuk kata-kata yang diadopsi dalam bahasa pergaulan tanpa suatu proses pengolahan yang tepat.
3.    Penempatan tanda baca. Siswa yang sudah sangat kental bahasa pergaulannya, akan sulit juga untuk menempatkan tanda baca yang tepat terutama tanda baca koma. Proses pembiasaan bahasa pergaulan secara lisan sejak dini akan sangat sulit bagi para siswa ketika menterjemahkan bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan secara tepat.
Beberapa solusi untuk membiasakan anak berbahasa secara tepat:[13]
1.    Menyadarkan siswa akan perbedaan dan fungsi dari bahasa pergaulan dan bahasa yang baku. Upaya pembedaan ini dimaksud untuk mengajak anak menyadari porsi dan tempat yang tepat bagi penggunaan kedua bahasa tersebut. Kapan mereka harus menggunakan bahasa pergaulan dan kapan bahasa yang baku mengambil peran.
2.    Sebagaimana bahasa pergaulan, proses berbahasa secara tepat yang sesuai dengan EYD pun membutuhkan suatu upaya pembiasaan. Artinya, anak dilatih untuk berbahasa secara tepat baik secara lisan maupun tulisan setiap saat setidaknya selama berada di sekolah. Pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan berbahasa pada siswa.

F.   PENGARUH BAHASA TERHADAP  KOMUNIKASI PENDIDIKAN
Salah satu fungsi bahasa Indoneisa adalah sebagai bahasa pengantar. Jadi, dalam kegiatan/proses belajar-mengajar bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Berkaitan dengan hal ini, saat ini muncul fenomena menarik dengan adanya Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI). Kekhawatiran sebagian orang terhadap keberadaan bahasa Indonesia dalam SNBI muncul karena bahasa pengantar yang digunakan dalam beberapa mata pelajaran adalah bahasa asing. Padahal kalau kembali ke fungsi bahasa Indonesia, salah satunya adalah bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan. Kekhawatiran seperti di atas sah-sah saja. Apalagi kalau kita amati penggunaan bahasa Indonesia oleh para penuturnya. Dalam berbahasa Indonesia sebagaian penutur kurang mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Dalam suasana yang bersifat resmi, mereka menggunakan kata-kata/bahasa yang biasa digunakan dalam suasana tidak resmi/kehidupan sehari-hari. Padahal, seperti kita ketahui bahwa berbahasa Indonesia secara baik dan benar adalah berbahasa Indonesia sesuai dengan suasana/situasinya dan kaidah-kaidan kebahasaan. Hal tersebut mungkin karena sikap negatif terhadap bahasa yang digunakan. Mereka berbahasa Indonesia tanpa mempertimbangkan tepat tidaknya ragam bahasa yang digunakan. Bagi mereka, yang terpenting adalah sudah menyampaikan informasi kepada orang lain. Perkara orang lain tahu atau tidak terhadap apa yang disampaikan mereka tidak ambil pusing. Padahal salah satu syarat utama supaya komunikasi berjalan dengan lancar adalah keterpahaman orang lain/mitra tutur terhadap informasi yang disampaikan. Selain itu, tidak pada tempatnya dalam suasana yang bersifat resmi seseorang menggunakan kata/kalimat/bahasa yang biasa digunakan dalam suasana tak resmi.[14]
Untuk itu, sudah selayaknyalah kalau warga negara Indonesia mempunyai sikap positif terhadap bahasa yang mereka gunakan. Dalam berkomunikasi, menggunakan bahasa Indonesia baik penutur maupun mitra tutur haruslah mempertimbangkan tepat tidaknya ragam bahasa yang digunakan. Sebagai warga negara Indonesia, kita harus mempunyai sikap seperti itu karena siapa lagi yang harus menghargai bahasa Indonesia selain warga negaranya. Kalau kita ingin bahasa Indonesia nantinya bisa menjadi salah satu bahasa internasional kita juga harus menghargai, ikut merasa bangga, merasa memiliki, sehingga kita punya jatidiri. Kita, sebagai bangsa Indonesia harus bersyukur, bangga, dan beruntung karena memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.
Munculnya Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI) tidak perlu memunculkan kekhawatiran akan hilangnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di dunia pendidikan. Hal ini karena ternyata penggunaan bahasa asing sebagai pengantar ternyata tidak diterapkan pada semua mata pelajaran. Penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar di SNBI hanya diterapkan pada beberapa mata pelajaran.
Intensitas penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar-mengajar menjadi berkurang. Hal itu bisa disiasati dengan lebih mengefektifkan proses pembelajaran bahasa Indonesia dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran lebih banyak diarahkan kepada hal-hal yang bersifat terapan praktis bukan hal-hal yang bersifat teoretis. Siswa lebih banyak dikondisikan pada pemakaian bahasa yang aplikatif tetapi sesuai dengan aturan berbahasa Indonesia secara baik dan benar.
Pengkondisian pada hal-hal yang bersifat terapan praktis bukan berarti menghilangkan hal-hal yang bersifat teoretis. Hal-hal yang bersifat teoretis tetap disampaikan tetapi porsinya tidak begitu besar. Dengan pengkondisian seperti itu, siswa menjadi terbiasa mempergunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Dalam suasana resmi mereka menggunakan bahasa resmi dan dalam suasana tak resmi mereka menggunakan bahasa tak resmi. Selain itu, mereka menjadi terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan.[15]


BAB III
PENUTUP

A.  KESIMPULAN
1.    PENGERTIAN BAHASA
Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.

2.    ASAL USUL BAHASA
Nenek moyang kita yang disebut Cro Magnon, berkomunikasi melalui simbol-simbol seperti tulang, tanduk, dsb. sampai pada tahap perkembangan selanjutnya, yaitu antara 35.000 sampai 40.000 tahun lalu, mereka menggunakan bahasa lisan. karena Cro Magnon dapat berpikir lewat bahasa, mereka mampu membuat rencana, konsep berburu dengan cara yang lebih baik dan mempertahankan diri lebih efektif. perkembangan bahasa itu menggambarkan atau merefleksikan suatu keadaan dalam sosial masyarakat, seperti: kelas (class), jenis kelamin (gender), profesi (profession), tingkat umur (age group), dan tingkat faktor sosial lainnya.
3.    FUNGSI BAHASA DALAM KEHIDUPAN
Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia mempunyai berbagai fungsi, yaitu sebagai bahasa resmi negara, bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, alat perhubungan pada tingkat nasional bagi kepentingan menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan, dan alat pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, seni, serta teknologi modern. Menurut Larry L. Barker, seperti yang dikutip oleh Mahreni Fajar, bahasa memiliki tiga fungsi:
1)   Penamaan (Naming atau Labeling)
2)   Interaksi
3)   Transmisi
Seperti yang dikutip oleh Deddy Mulyana, Book mengemukakan, agar komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu:
1.    Untuk mengenal dunia di sekitar kita.
2.    Berhubungan dengan orang lain.
3.    Untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita.
4.    MEMAHAMI FUNGSI BAHASA LISAN DAN TULISAN
a)   Komunikasi Lisan
Menurut De Vito, Victoria dan Robert seperti yang dikutip oleh ada enam jenis komunikasi lisan (verbal).
1)   Emotive speech, merupakan gaya bicara yang lebih mementingkan aspek psikologis. Ia lebih mengutamakan pilihan ‘kata’ yang didukung oleh pesan non verbal.
2)   Phatic speech adalah gaya komunikasi verbal yang berusaha menciptakan hubungan sosial sebagaimana dikatakan oleh Bronislaw Malinowski dengan phatic communication, phatic speech ini tidak dapat diterjemahkan secara tepat karena ia harus dilihat dalam kaitannya dengan konteks di saat ‘kata’ diucapkan dalam suatu tatanan sosial suatu masyarakat.
3)   Cognitive speech merupakan jenis komunikasi verbal yang mengacu pada kerangka berpikir atau rujukan yang secara tegas mengartikan suatu kata secara denotatif dan bersifat informatif.
4)   Rethorical speech mengacu pada komunikasi verbal yang menekankan sifat konatif. Gaya bicara ini mengarahkan pilihan ucapan yang mendorong terbentuknya perilaku. Cara ini biasannya digunakan oleh para politisi, salesman yang bersifat persuasi.
5)   Metalingual speech adalah komunikasi lisan secara verbal, tema pembicaraannya tidak mengacu pada obyek dan peristiwa dalam dunia nyata melainkan tentang pembicaraan itu sendiri. Tipe pembicaraan ini sangat berbeda dari yang lain, ia bersifat sangat abstrak dan berorientasi pada code/ tanda-tanda komunikasi.
6)   Poetic speech adalah komunikasi lisan yang secara verbal berkutat pada struktur penggunaan kata yang tepat melalui perindahan pilihan kata, ketepatan ungkapan biasannya menggambarkan rasa seni dan pandangan serta gaya-gaya lain yang khas. 

b)   Memahami Fungsi Komunikasi Verbal Tertulis
Tubbs (1978) mengutip karya Menning dan Wilkonson dalam buku mereka: Communication by Latters and Reparting, mengemukakan bahwa tema-tema komunikasi verbal tertulis terletak pada faktor keterbacaan. Keterbacaan, menurut keduannya, berkaitan dengan semantik suatu bahasa yang mempertimbangkan apakah setiap pembaca dapat mengerti suatu tulisan dalam suatu wacana. Dua pengarang itu menekankan perihal diksi (pemilihan kata), mendefinisikan term-term yang bersifat teknis dan metode bersama yang dapat diterima seperti tanda baca dan bentuk kalimat.
5.    PENGARUH BAHASA TERHADAP PENDIDIKAN FORMAL DI SEKOLAH
Ada beberapa indikator yang menentukan kuatnya bahasa pergaulan yang dikuasai oleh siswa.
1.    Sejak lahir
2.    Lingkungan
6.    PENGARUH BAHASA DALAM KOMUNIKASI PENDIDIKAN
Dalam berbahasa Indonesia sebagaian penutur kurang mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Dalam suasana yang bersifat resmi, mereka menggunakan kata-kata/bahasa yang biasa digunakan dalam suasana tidak resmi/kehidupan sehari-hari. Padahal, seperti kita ketahui bahwa berbahasa Indonesia secara baik dan benar adalah berbahasa Indonesia sesuai dengan suasana/situasinya dan kaidah-kaidan kebahasaan. Hal tersebut mungkin karena sikap negatif terhadap bahasa yang digunakan. Mereka berbahasa Indonesia tanpa mempertimbangkan tepat tidaknya ragam bahasa yang digunakan. Bagi mereka, yang terpenting adalah sudah menyampaikan informasi kepada orang lain.
B.  KRITIK/SARAN
Bahasa memiliki banyak pengaruh dalam pembelajaran di sekolah karena bahasa berfungsi sebagai suatu pengantar dalam pendidikan. Saat ini yang disayangkan adalah penggunaan bahasa yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan ejaan yang benar. Seharusnya setiap sekolah memiliki seorang ahli bahasa yang profesional yang bertugas memberikan pemahaman dan penjelasan mengenai penggunaan bahasa yang baik dan benar. Bahasa menjadi sebuah identitas dari setiap individu ataupun suatu lembaga karena bahasa sangat berpengaruh dalam pendidikan dan pergaulan.
C.  HARAPAN
Bahasa Indonesia merupakan bahasa Nasional, yang artinya sebagai bahasa persatuan yang digunakan oleh semua warga negara untuk dapat berkomunikasi secara nasional. Bahasa Indonesia berpengaruh terhadap pendidikan di sekolah, untuk itu, perlu adanya perubahan yang signifikan dalam upaya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar proses pembelajaran/pendidikan dapat tercapai.


DAFTAR RUJUKAN

Fajar, Marheni. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2009.
Liliweri, Alo. Kmunikasi Verbal dan Nonverbal. Citra Aditya Bakti. Bandung. 1994.
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung. Remaja Rosdakarya. 2010.




[2] Marheni Fajar, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hlm: 111
[3] Ibid. hlm: 111
[5] Marheni Fajar, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hlm: 112
[6] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hlm: 267
[7] Alo Liliweri, Komunikasi Verbal dan Nonverbal, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1994), hlm: 42-43
[8] Ibid, hlm: 43
[9] Ibid, hlm: 45
[10] Alo Liliweri, Komunikasi Verbal dan Nonverbal, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1994), hlm: 42-43

0 comments:

Post a Comment

COMMENT PLEASE.............

Copyright 2009 KNOWLEDGE. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates